Bali Puspa Bordir

Denpasar (Tabloid Bali Dwipa) - Jro Puspawati menekuni dunia bordir, dan ide-idenya…. Terinspirasi dari “ Canang “. Bagi ibu tiga putra kelahiran Jakarta 8 juni ini, menilai kehidupan masyarakat Bali tidaklah bisa lepas dari bunga. Setiap hari masyarakat Bali terutama kaum perempuannya selalu berurusan dengan bunga, mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, “ ungkap Jero Puspawati kepada Tabloid Bulanan Bali Dwipa. Dan ternyata kehidupan masyarakat Bali yang selalu bergelut dengan canang tepatnya bunga inilah yang menggambarkan inspirasinya yang mengalir dalam menciptakan motif bordirnya. Dalam relative usianya yang masih muda, perempuan yang aktif dalam organisasi IWAPI Badung sebagai ketuanya ini, bisa dikatakan sukses dalam mengembangkan usaha bordirnya. Walau begitu dirinya tak mau di sebut sebagai seorang pengusaha,” cukup perajin bordir saja “, ucap Ibu dua orang anak yang akrab di sapa Jro itu.

Begitulah perbincangan yang mengawali mengalirnya kisah perempuan enerjik itu menemukan talenta dalam dirinya. Perempuan lulusan jurusan Manajemen Pariwisata di Jakarta itu mengawali usahanya sebagai perajin border dari nol, tepatnya pasca bom bali tanggal 12 Oktober tahun 2002 lalu. “ Saat itu usaha minimarket saya merugi akibat pelanggan tidak bisa membayar barang-barang yang mereka ambil dari toko saya. Pelanggan dari hotel dan restoran kolaps akibat bom 2002,” cerita Jro Puspa tentang pekerjaan yang lalu, sebelum akhirnya menemukan talenta mendesain motif bordir, padahal sebelumnya dirinya selalu bergulit dengan sembako.
Dari awal perkawinanya dengan Ida Bagus Saskara putra ke-3 Mantan Bupati Klungkung Almarhum Ida Bagus Oka, Jero Puspa mengawali usahanya dengan membuka toko sembako. Saat itu pelanggannya dari 3 hotel berbintang dan 2 restoran. Mereka mengambil barang ditokonya dengan pembayaran belakangan. Justru usahanya yang digelutinya mendadak menyurut setelah bom meledak di Legian Kuta tahun 2002 lalu. Peristiwa ini membuat Jro kehilangan banyak kesempatan. Jangankan keuntungan hingga Rp. 6 juta setiap bulannya, pasca bom itu uang yang terkumpul hanya sekitar Rp. 300.000 saja. Sebagai ibu dari 2 anak, Ida Bagus Suryadharma dan IB. Alit Krhisna, kala itu dirinya di paksa memutar otak. “ Saat itu saya bersama suami berjuang bagaimana caranya mengembalikan modal. Saya sampai down saat itu,” kenang Jero Puspa menceritakan pergulatannya menghadapi mahligai kehidupan keluarganya.

Titik terang mulai muncul ketika Jro Puspa diajak bergabung dengan IWAPI ( Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia ) Bali oleh mertuanya Letkol (purn)CAJ.Ida Ayu Sasih S.Ag. Motivasi teman-temannya, sahabat dan terutama keluarganya semakin memecut dan mendorong dirinya menemukan jalan keluar yang menjerat kehidupan keluarganya. Mulailah dia belajar desain kebaya bordir. Dirinya semakin rajin mengamati segala motif bordir dimanapun dia melihatnya.

Bermodalkan sisa uang usahanya Rp. 1,8 Juta, Jro mencoba mendapatkan pinjaman kebaya dan kain dari toko disepanjang Jalan Sulawesi Denpasar. Daerah ini memang terkenal sebagai pusat perbelanjaan kain dan kebaya di Bali. Bermodalkan kepercayaan, Jro akhirnya mendapatkan beberapa potong kain dan kebaya untuk dia jual kembali. Begitulah dia mengawali bisnis bordir ini. Semakin lama ketertarikannya pada bordir semakin kuat. Dia mulai menggambar sekenanya untuk motif bordir. Sang Suami, Ida Bagus Saskara, malah semakin memacu  Istrinya  untuk menciptakan motif bordir sendiri pada kebayanya. Bak gayung bersambut, tangan Jro memang terampil menciptakan motif kerawangan ( bordir ). “ Saat itu, modal saya hanya cukup untuk membeli 21 potong bahan kebaya. Saya menggambar motif kerawangannya dan memadukan warna agar sesuai dan cantik, kemudian saya pergi ke Jalan Sulawesi Denpasar, “ meminjam “ tukang bordir di sana. Untung saja ada toko yang mengijinkan,” kenang Jero Puspa, yang saat itu belum memiliki mesin bordir dan mesin jahit sendiri.

Menurut perempuan yang hingga sekarang masih belajar menggunakan mesin bordir itu, kesukaannya melihat-lihat gambar maupun motif di suatu majalah membuat inspirasinya terus mengalir, untuk model jenis motifnya Jro  banyak belajar dari motif bordir dari Jawa, terutama dari daerah Tasikmalaya.

Untuk totalitas penghayatannya sebagai perempuan Bali yang setiap hari selalu bersentuhan dengan sesajen dan tidak pernah lepas dari aneka rupa bunga membuat kreasinya semakin kaya, ketika mempersiapkan canang untuk sesajen, dari rangkaian bunga pancasari yang memang sedap di pandang mata, Jro mulai terinspirasi menuangkannya ke dalam motif Kerawang. Dia juga mulai mengamati pernak-pernik sesajen, seperti janur yang khas  dan selalu ada pada sesajen. Setidaknya perempuan Bali yang kerap mengenakan kebaya itu dapat menjadi symbol pengembang motif kerawang khas Pulau Dewata. Inspirasi dari kehidupan sehari-hari yang dihadapi membuat karyanya lain dari gaya kerawang lainnya, selain itu jro juga berusaha untuk belajar dari beberapa desainer yang berpengalaman salah satunya adalah A.A Mayun Tenaya yang sangat berperan dalam memberikan masukan terhadap hasil desain bordirannya .

Pada saat bersamaan permintaan bordir produksinya mulai mengalami peningkatan, lalu pada suatu hari datanglah seorang wartawati koran KOMPAS yang mau berbelanja tetapi kemudian malah melakukan liputan berita. Setelah hasil liputan tersebut dimuat mulailah terjadi perubahan yang luar biasa dalam karier usaha bordir Jro Puspawati (BALI PUSPA BORDIR), sejak saat itu berbagai kalangan yang suka akan bordiran terutama dari Jakarta, mulai berdatangan baik itu Dr, Pengusaha, artis bahkan pejabat setingkat Menteri yang membuat kami terkejut. Baru kemudian BALI PUSPA BORDIR mulai dikenal di pulau dewata, Indonesia, dan bahkan beberapa orang yang bermukim di luar negeri.
Sejak saat itu Jro Puspa mulai semakin giat untuk mengembangkan usahanya dan sejalan dengan hal tersebut karier dan prestasinya mulai menanjak, selanjutnya berbagai bantuan mulai berdatangan baik itu berupa, dana, relasi dan promosi. Bantuan – bantuan tersebut bahkan datangnya bukan saja dari dalam negeri tetapi Luar negeri juga.
“ Ternyata memang…dalam hidup kita itu harus berusaha dengan Jujur, kerja keras dan iklas untuk hasilnya kita hanya pasrah kepada Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan Yang Maha Esa karena hidup kita beliaulah semua yang mengatur”…demikian Jro Puspawati menyampaikan diakhir wawancaranya.

Referensi :
Bordir adalah istilah umum motif bordir yang di buat di atas kain atau bahan apapun. Sementara kerawangan biasa di pakai untuk bordir pada kebaya. Perbedaan motif kerawangan dengan bordir dapat di lihat dari motif yang digambarkan seperti lubang-lubang dengan bermacam bentuk ( terawang ). Kerajinan tangan bordir dipercaya berasal dari China yang kemudian meluas hingga ke Malaysia dan sekitarnya termasuk Indonesia. Di Indonesia Bordir beradaptasi dengan budaya local, terutama motif dan warnanya.
•    Sebaiknya bahan yang digunakan untuk membuat pakaian atau kebaya bordir di pilih kain yang tidak pecah saat di timpa kerawangan.
•    Perawatan Kain Bordir, Cukup di cuci secara lembut dengan tangan dan di setrika memakai panas sedang. Saat mencuci sebaiknya pengucekan tidak dilakukan pada motif kerawangan dan tidak diperas untuk menjaga kualitas bordir.
•    Untuk harga BALI PUSPA BORDIR, mulai dari Rp. 85.000 hingga Rp. 2.100.000. bulan mampu menghasilkan 150 potong kebaya kerawangan.
•    Untuk meningkatkan penjualan Jero Puspawati melakukan promosi dengan cara mengikuti beberapa event pameran baik yang diselenggarakan di Bali maupun di luar Bali seperti pameran inacraft di Jakarta, PPE di Jakarta, Smesco di Jakarta, PKB di Bali serta pameran exhibition lainnya.
BALI PUSPA BORDIR
Pemilik        :     Jro Puspawati
Alamat        :     JL. Drupadi XI/1 Renon Banjar Sungiang Sari Denpasar
Email        :    bali.puspa@gmail.com
Telp        :     ( 0361 ) 245666 atau 081338441508
Bidang Usaha    :     Pembordiran ( Kebaya, Endek, Songket, Baju Koko, Mukena,
Baju Muslim Abaya, dan Gamis ).

Berita Lain dari Kerajinan & Ukm.

Desain Kreatif BARASILVER

Perpaduan Songket dan Kulit Mahadiva